DonkeyMails.com: No Minimum Payout
Join Vinefire!

Selamat Bergabung di INDONESIA MANDIRI

Berat????,,, memang di situlah letak nya perjuangan demi kemajuan kita barsama.
Kalau saja Bung Karno dengan kesederhanaan gaya hidup Rakyat Indonesia ketika itu berani memperjuangkan, dan bahkan beliau sangat kenyang keluar masuk Penjara - kami yakin kita tidak akan seperti itu, namun tetap memerlukan Pemikiran significant, bila tidak maka DEKOLONIALISASI gaya baru akan sangat tidak terasa apabila anda tidak bergerak darisekaran.
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juli 2009

Aku Belajar Dari Tukang Koran

Ada pemandangan yang menarik setiap pagi. Setiap hari ketika saya berangkat ke kantor dan berhenti di sebuah lampu merah sebuah persimpangan, saya selalu tertarik melihat seorang penjaja koran di lampu merah.

Bukan gembel, bukan pengamen, bukan pembersih kaca, bukan pula pengemis, melainkan seorang wanita cantik dengan rambut panjang lurus yang diikat ekor kuda, memakai kaos lengan panjang kasual (dan celana panjang kasual) serta memakai topi.

Wajahnya selalu (ya, selalu) tersenyum pada setiap orang yang lewat atau berhenti di lampu merah itu. Ia kemudian menjajakan korannya pada pengendara-pengendara yang berhenti, "Koran mas?" tanyanya. Ia cantik, dan sudah jelas ia bukan seorang pengemis lusuh atau gembel karena ia berdandan juga.

Setiap pagi baik berhenti di lampu merah ataupun tidak, saya selalu melihat gadis itu. Weits, bukan karena ada perasaan apa-apa. Cuma saya salut dengan gadis itu. Di bawah terik matahari ia masih bisa memberikan senyum pada setiap pengendara yang lewat. Ia selalu menyapa beberapa langganannya. Terlebih ia selalu tampil rapi. Berbeda dengan beberapa penjaja koran lainnya, ia tampil "menarik" dan "bersih" dibanding lainnya. Alhasil, korannya paling laku!

Apa yang bisa saya petik dari pelajaran sederhana ini?

Gadis itu ialah seorang yang sederhana. Koran yang ia jual tidak berbeda dengan koran yang dijajakan penjual koran lainnya. Waktu ia menjajakan korannya juga sama: jam-jam sibuk. Tapi apa yang membedakan gadis itu dengan penjual lainnya sehingga ia paling laris?

Jawabannya: senyum.

Yap, gadis itu selalu tersenyum pada setiap ia menjajakan korannya. "Koran mas?" sambil tersenyum. Satu hal yang sangat kecil. Ketika ia tersenyum, orang lain akan merasa lebih akrab (Bandingkan dengan penjaja koran yang selalu memasang muka melas atau muka garang).

Saya teringat dengan satu cerita lain. Di sebuah jalan yang ramai di Amerika, ada sebuah kedai kopi yang sangat ramai. Kedai itu tidak terlalu besar, tetapi banyak orang yang mau berangkat kerja di pagi hari selalu mampir untuk take away kopi. Sebaliknya dekat-dekat situ ada sebuah kedai kopi yang lebih bagus dan kualitas kopi yang lebih enak malah relatif sepi pengunjung.

Usut punya usut ternyata yang membedakan ada di pelayanan kedua kedai tersebut. Di kedai yang lebih kecil, si pelayan selalu menyapa setiap pengunjung dengan nama masing-masing. "Pagi John, mau kopi seperti biasa hari ini?" atau "Selamat pagi Ms Granger, kopi pahit tanpa gula seperti biasa?". Jelas pengunjung akan merasa lebih dihargai dan lebih dikenal apabila dipanggil dengan nama. Sekalipun rasa kopi itu biasa, namun rasa kekeluargaan dan kehangatan yang diciptakan, itulah yang menjadi daya tarik kedai tersebut.

Sobat IMAN, senyum, keramahan dan sapaan itu sangat kuat. Bukan hanya berlaku di dunia bisnis, melainkan juga kehidupan sosialmu. Orang akan punya banyak teman bila ia rajin menyapa dan ramah. Orang yang berat bibir biasanya tidak punya banyak koneksi. Apalagi orang yang selalu murung. Wah...

Belajarlah tersenyum mulai hari ini. Tingkatkan inner charm diri Anda dan mulailah ramah kepada setiap orang. Siapa yang tak mau punya banyak teman? Saya juga mau...

Belajar Berenang

Pernah melihat bapak-bapak kursus privat renang ? Saya untungnya sudah. Pagi ini, di kolam renang langganan kami. Dua orang lelaki dewasa -bertubuh tinggi besar- masing-masing dengan pelatih mereka, baru belajar berenang. Benar-benar menggelikan. Air bermuncratan kemana-mana, belum lagi melihat wajah yang memerah, ekspresi ketakutan yang kadang tampak serta dengus nafas mereka yang begitu jelas, membuat mau tidak mau keduanya menarik perhatian. Tetapi yang paling unik dari adegan tersebut justru para pelatihnya. Yang satu wajahnya demikian serius. Saya berani bertaruh jika bertemu dengannya, Anda pasti menyangka dia berprofesi sebagai guru matematika. Sejak duduk di Sekolah Dasar hingga sekarang, wajah seserius dia, tidak pernah saya jumpai di kolam renang.

"Kemaren," cerita pelatih ini, "saya habis ngelatih, PM (Polisi Militer) berenang. Wah susahnya bukan main. Mana cuman punya target 2 minggu lagi. Padahal targetnya harus 25 meter. Saya sih sudah bilang ke dia.'Pak mana cukup belajar berenang 2 minggu'.tapi ya kita coba juga. Akhirnya hanya bisa 10 meter doang !!".

Cerita perkenalan yang membuat *down* siapa saja yang baru berniat belajar berenang. Tapi itu belum seberapa, cara berkenalan, mengarahkan dan lain sebagainya, pelatih ini lebih mirip seorang penyuluh mengenai bahaya flu burung. "Relaks.jangan kaku.. santai saja kakinya !!!!", teriaknya dengan wajah yang sangat tidak familiar. Tanpa senyuman. Hasilnya mudah ditebak, si murid bertambah gugup. Dan mereka berdua lebih tampak bergumul, ketimbang belajar berenang. *Asli*, lama-lama berada didekatnya membuat berenang menjadi sama sulitnya dengan terbang !!!

Berbeda dengan yang pertama, pasangan yang kedua sangat menikmati kebersamaan mereka. Jika pasangan pertama lebih banyak menghabiskan waktunya ditepi kolam, dimana sang murid banyak mendengarkan "petuah-petuah" dari pelatihnya, pasangan kedua, langsung *nyebur*. "Berenang itu gampang Pak.dan menyehatkan" , kata pelatih kedua,"Cuma perlu teori sedikit, terus coba deh. Asal iramanya sudah ketemu, siapapun pasti bisa berenang. Yang pasti diperlukan ketenangan. Tapi walaupun gampang, sebaiknya dikolam cetek dulu, jadi kallo klelep, kaya tadi, minum airnya gak banyak..ha.. ha..ha.." . Merekapun tertawa bersama. Dan lihatlah, tanpa perlu diteriakin sang murid tampak relak dan sangat menikmatinya.

Pelatih pertama sering sekali mengucapkan kata "sulit", pelatih kedua cenderung menggunakan kata "tantangan". Contohnya begini, namanya belajar berenang pastilah kedua orang murid itu, sesekali 'tidak sengaja' tersedak, meminum air kolam seteguk, dua teguk. Pelatih yang pertama langsung berseru "Yang paling sulit dari berenang, adalah mengatur nafas. Itu memang sulit". Sedangkan pelatih kedua, berkata "Disinilah *tantangan*nya. Pernafasan. Tapi it's ok..semua orang yang belajar berenang, pasti pernah minum air kolam". Luar biasa !!

Sungguh-sungguh adegan langka. Saya sangat beruntung menyaksikan keduanya dengan mata kepala, serta telinga saya sendiri. Dua orang pelatih dengan dua orang murid yang berbeda, dikolam renang yang sama, dalam waktu bersamaan. Jadi teringat pengalaman pertama kali terjun kedunia *enterpreneur* sebagai seorang *photographer* dan *resign* dari sebuah Bank Swasta terbesar di Indonesia. Dunia enterpreneur yang memang asing, menjadi begitu menakutkan. Sampai ketika sekali waktu saya bertemu dengan seorang begawan enterpreneur Indonesia, Bob Sadino. Waktu itu, saya diminta oleh Kintamani publishing untuk membuatkan konsep sekaligus mengeksekusi foto-foto untuk cover 2 buku Om Bob berjudul "Belajar Goblok dari Bob Sadino" dan "Mereka Bilang Saya Gila" yang sekarang sudah beredar luas. Om Bob, dalam satu kesempatan curhat, sempat menasehati saya. "Kamu masih sangat muda De (Made.sebutan untuk orang Bali, anak kedua..he..he. .), dunia enterpreneur itu sangat mengasikkan. Yang diperlukan bukan sekolah atau segudang teori. Dunia enterpreneur, meskipun juga membutuhkan teori, lebih membutuhkan praktik real dilapangan. Karena dilapanganlah kamu akan belajar nyata, tidak saja dari kesuksesan tetapi juga dari kesalahan. Langkah pertama adalah, cintai dunia itu. Kemudian terjun langsung kedalamnya.Kallo mau jadi jagoan karate kita harus banyak-banyak bertanding, bukan banyak baca buku"

Betapa benarnya Si Om. Seringkali pendekatan kita terhadap segala sesuatu secara psikologis, sangat menentukan tingkat keberhasilan kita*. *Suatu masalah atau pekerjaan baru menjadi seratus kali lebih sulit dan mengerikan jika pendekatan kita terhadapnya salah. Tetapi jika pendekatan kita benar dan positif, hampir bisa dipastikan, setiap kesulitan yang menghadang akan berubah menjadi tantangan yang menyegarkan. Jadi jika Anda ingin lingkungan kerja Anda penuh ketegangan dan low creativity, mudah, maki-maki anak buah Anda, apalagi mereka karyawan baru ketika melakukan kesalahan, buat mereka melihat betapa mengerikan dan fatalnya melakukan kesalahan. Kurangi tawa Anda, bila perlu angker-lah setiap saat. Pertahankan meeting-meeting yang dingin tanpa sentuhan kemanusiaan. Dijamin apa yang Anda iginkan akan terwujud. Tetapi. jika Anda merindukan performance yang luar biasa dari anak buah Anda, jika Anda merindukan setiap orang dalam team Anda melakukan yang terbaik dan terhebat untuk perusahaan, lakukan sebaliknya.

Sedikit menyambung soal kedua pelatih dan muridnya diatas. Anda bisa tebak, kira-kira yang mana dari kedua orang itu akan lebih cepat bisa berenang. Baru setengah jam dikolam renang, pelatih kedua telah berhasil membuat muridnya berenang dua tiga kayuhan, sementara pelatih pertama masih sibuk memberikan jurus-jurus jitunya, dibibir kolam renang. Nggak nyangka..berenang seperti halnya *enterpreneurship, profesional* ataupun skill apapun dalam hidup ini, harus dilakukan terutama dengan hati. Jadi jika sampai saat ini guru, mentor, dosen Anda terus-menerus menekankan betapa sulitnya sesuatu, dan lupa menekankan betapa manfaat, atau keuntungan atau betapa menyenangkannya sesuatu itu, tinggalkan saja mereka. Kepandaian mereka mempersulit segala sesuatu, hanya akan membuat kesulitan baru untuk Anda. Sebagai gantinya. Cari orang lain, lingkungan lain yang membuat pekerjaan, bisnis, hobby, bahkan tantangan Anda menjadi demikian menyegarkan !

KOMPAS.com

DonkeyMails.com: No Minimum Payout

Foto Kiriman

Foto Kiriman
Mei 1998

di senayan

menunggu keputusan Mei 1998